1. buat mading jmd

    EKSPEDISI GUNUNG KERINCI (3805 mdpl) 2007

    Sebuah gunung yang berdiri tegak dengan bentuknya yang kokoh keras namun terlihat sangat cantik dan elok dari kejauhan. Menyimpan berjuta keindahan yang dipagari berbagai bahaya tersembunyi. Puncak yang terlihat runcing munjulang tinggi membelah awan, menyatukan warna padu antara putih, biru, dan hijau samar. Dialah sang Kerinci, gunung tertinggi ke dua di Indonesia setelah Cartenz Pyramid. Menancapkan pasaknya di tanah Jambi, Pulau Sumatera.

    25 Juni 2007

    Rasa kantuk dan lelah kami rasakan setelah semalam kurang tidur karena harus mempresentasikan rencana perjalanan serta menyiapkan semua perlengkapan dan perbekalan kami. Tim Ekspedisi Kerinci 2007 terdiri dari 6 orang Anggota Muda XXXI, yaitu: saya, Nugraha Nurdiansyah ; Pilar Saga Ichsan ; Regy Dena Agassi ; M. Rizky Riansyah ; M. Luthfan Alhamra ; dan M. Malik Ar-Rahiem. Didampingi oleh 2 orang Anggota Tetap PPA Jamadagni : Hilman Frimadi dan Tuwuh Saswoprasojo.

    Setelah berkumpul di Sekretariat, kami berangkat ke Bandara Soekarno Hatta untuk kemudian terbang ke Padang, dilanjutkan perjalanan darat menuju Kersik Tuo, sebuah desa yang berada di Jambi.

    27 Juni 2007

    Dini hari yang dingin, bis melintas daerah Kersik Tuo yang diselimuti kabut. Bis kemudian berhenti di depan penginapan. Rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh membuat kami ingin segera masuk ke penginapan. Kami membaringkan tubuh untuk menutup mata. Bukan untuk selamanya, tapi menutup mata sejenak, sekedar menghilangkan rasa lelah dan penat.

    Biasan sinar mentari masuk melalui jendela penginapan untuk membangunkan kami, seolah menyambut semangat kami semua. Kami terbangun dari lamunan dan mimpi untuk kemudian terpukau oleh pandangan nyata gunung kerinci di depan mata.

    Jarum jam menunjukkan pukul 10.35 saat kami mulai melangkahkan kaki dari penginapan setelah sebelumnya mengurusi administrasi dan perizinan.

    Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk pendakian, tibalah kami di Pos 2. Waktu menunjukkan Pukul 17.20, sehingga diputuskan untuk membuat camp di tempat ini. Seperti biasa, kami mendirikan tenda, memasak, dan membuat api unggun. Malam semakin larut, tanpa terasa kami tertidur di pelukan malam.

    28 Juni 2007

    Hari itu adalah hari ulang tahun saya yang ke 17. Alhasil pagi hari itu saya mendapatkan tamparan dari kawan yang sekaligus menjadi tim ekspedisi. Saya termenung di antara tetesan embun pagi yang berkilau menggantung pada dedaunan, berharap dan berdoa pada Sang Kuasa ,semoga perjalanan itu dapat membuat saya mengerti akan arti kedewasaan.

    Saya pikir tak banyak orang yang seberuntung saya, sweet 17th birthday di tanah tertinggi Pulau Sumatera. Menghabiskan momen di tengah pelukan alam dan jauh dari hiruk-pikuk urusan kota yang menjemukan.

    Pukul 10.30 kami mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak di jalan menuju puncak, jalan setapak yang sempit dengan lebar kurang dari satu meter. Hutan lebat terasa sunyi, hanya tiupan angin yang terdengar samar dan menerpa kulit dengan sejuknya.

    Petang hari, pukul 17.45 kami tiba di shelter 2. Tenda pun kami dirikan dengan tidak lupa membuat api unggun dan memasak makanan. Satu masalah yang kami lupakan, persediaan air yang kami bawa ternyata menipis. Dengan keadaan ini, konsekuensinya kami harus mempercepat gerakan untuk pergi ke puncak dan turun kembali ke Kersik Tuo dalam satu hari. Malam itu, kami memejamkan mata, tidur dalam doa.

    29 Juni 2007 : SUMMIT ATTACK

    Saat suhu udara di sana sedang mencapai titik terendah, kami bangun dari tidur kami. Segera kami persiapkan perbekalan kecil yang dimasukkan ke dalam daypack. Ransel yang beratnya lebih dari 30kg kami tinggalkan di dalam tenda.

    Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari saat kami mulai berjalan menuju puncak. Kami berjalan dalam satu barisan yang lurus diterangi oleh sorotan cahaya senter yang kami bawa. Setelah sekitar 45 menit berjalan, kami mulai mencapai batas vegetasi. Tidak kami lihat tumbuhan sama sekali di sana. Hanya hamparan batu dan pasir dengan kemiringan yang mencapai 45 derajat. Kami terus mendaki di tengah batu dan pasir yang sangat curam.

    Masih saya ingat, malam itu bulan sedang menampakkan wujudnya dalam bentuk bulat yang utuh dengan cahayanya yang kuning kemerahan. Sungguh bulan purnama itu terlihat sangat dekat, seolah hanya berada sejengkal di atas kepala saya. Rasanya tangan ini mampu menggapai dan memegang sang bulan. Dewi malam saat itu tampak merestui perjalanan kami.

    Angin berhembus semakin kencang. Meniupkan udara yang sangat dingin dengan kabutnya yang tebal. Udara yang sangat dingin itu mampu menembus jaket tebal yang kami pakai. Bahkan di antara kami ada yang memakai lebih dari satu jaket. Di tengah kedinginan yang menusuk, kami mulai membuka sapu tangan. Kami lipat sapu tangan itu untuk kemudian dipakai melingkar menutupi hudung dan mulut. Tak mampu rasanya paru-paru ini menghirup udara sedingin itu.

    Matahari belum terbit saat kami mencapai puncak pukul 06.00. Kami beristirahat sejenak, memakan makanan kecil yang kami bawa sambil memandang ke arah timur, menunggu mentari pagi muncul. Dua puluh lima menit kemudian, perlahan-lahan matahari mulai terlihat naik ke atas dengan sinarnya perlahan-lahan menyapa gumpalan-gumpalan awan yang menciptakan degradasi warna yang memsona. Sinarnya mulai menempa seluruh pemandangan indah di puncak itu.


    Berada di ketinggian 3805 mdpl menikmati sunrise di bibir kawah yang sempit dengan hamparan awan putih dan birunya langit. Sungguh sebuah momen yang akan terus melekat.

    Pukul 07.30 dengan berat hati kami meninggalkan puncak. Kami tidak bisa berlama-lama di puncak karena harus meneruskan peralanan pulang. Dituntut oleh tipisnya persediaan air dan makanan. . Selamat tinggal Kerinci..

    Oleh : Nugraha Nurdiansyah ‘nunu’

    NRP JMD 197329/KLISE

    1. akafajaretta reblogged this from nugrahanurdiansyah and added:
      astagfirallha nunu, ini udah ampir 3 taun...lalu. hahha masih inget jaman-jamannya AM jmd...
    2. indonesia-raya reblogged this from nugrahanurdiansyah
    3. nugrahanurdiansyah posted this